Bersih Hati Jelang Bulan SUCI

MENYAMBUT BULAN SUCI BERSIHKANLAH KABUT YANG MENYELIMUTI CAHAYA HATI


Sahabat gudang arab, Ramadhan tinggal menghitung hari, semoga kita sekalian bisa mendapati ramadhan dengan kesehatan yang paripurna, dapat melaksanakan ibadah dengan sempurna, namun sebelum datang bulan Ramadhan, alangkah baiknya jika kita mengingat sabda nabi Muhammad SAW. 

عَنْ عَلِيّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِيَى اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنَ الْقُلُوْبِ قَلَّبَ إِلاَّ وَلَهُ سَحَابَةٌ كَسَحَابَةِ الْقَمَرِ، بَيْنَمَا الْقَمَرُ مضئى إِذْ عَلَتْهُ سَحَابَةٌ فَأَظْلَمَ، إِذْ تَجَلَّتْ عَنْهُ فَأَضَاءَ (البخارى ومسل

"Dari Ali bin Abi Thalib ra, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  “Tiada satu hati pun yang bergerak kecuali diselimuti kabut, seperti awan kabut menutupi purnama. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena ia tertutup awan, maka ia menjadi gelap, dan ketika awannya pergi menyingkir, purnamapun bersinar terang kembali.” 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi bin Abi Thalib ra.)

Cahaya merupakan simbol dari pencerahan spiritual. Ilmu adalah cahaya. Iman adalah cahaya. Bekas-bekas basuhan air wudhu di wajah adalah cahaya. Al Qur'an adalah cahaya. Setiap amal shaleh yang kita lakukan hakikatnya adalah cahaya. Sejatinya, cahaya spiritual akan membimbing serta menerangi kehidupan manusia, tidak hanya di dunia saja tapi juga sampai ke akhirat kelak.

Di sana, cahaya terang akan memancar dari wajah setiap hamba-hamba beriman yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Cahaya inilah yang akan membedakannya dari orang-orang kafir dan ingkar.

Hati manusia itu bagaikan cermin yang memantulkan cahaya. Jika cermin itu bersih dari debu dan kotoran yang menghalangi maka apa yang kita lihat akan tampak jernih apa adanya. Hitam putih akan terlihat jelas dan nampak perbedaannya. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau terhalang kabut hawa nafsu, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari batiniah atau hatinya,

ِانَّ اللهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ (اخرجه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (HR. Muslim)

Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan shaleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya

tidak sah dan dimurkai Allah Azza wa Jalla. Namun sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah Azza wa Jalla memaafkannya.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda _dhanniyyah_ (yang diperkirakan) bukan _qath’iyyah_ (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu kita tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal shaleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang Muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.

Hadits di atas memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun seringkali tertutupi oleh kabut kemaksiatan hingga sinarnya menjadi redup. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan kabut yang menutupi cahaya hati kita.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا (١٢٣) وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا (١٢٤) 

"Barang siapa yang mengerjakan amal kejahatan/kejelekan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah. Dan barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun." 

(QS. An-Nisa': 123-124)

Setiap orang yang beramal itu akan diberikan imbalan sesuai dengan jenis amalannya. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Azza wa Jalla,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ, وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat imbalannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat imbalannya pula."

(QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa membersihkan kabut yang menyelimuti cahaya hati agar menjadi orang yang pemaaf dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain untuk meraih ridha-Nya.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url