Harta milik kita yang sebenarnya
BERINFAKLAH, MAKA HARTA TERSEBUT BARULAH MENJADI MILIKMU
Sobat Gudang Arab, tidak ada kata indah, seindah do'a dan Nasehat, semoga kita sekalian senantiasa menjadi hamba hamba Allah SWT yang selalu saling berwasiat dalam kebaikan dan ketaatan.
Ibnu Athaillah As-Sakandari memberikan nasihat,
"أنْتَ حُرٌ مِمّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِما أنْتَ لَهُ طامِع"ٌ. (ابن عطاء الله السكندري)
"Kamu menjadi manusia bebas terhadap sesuatu yang tak pernah kamu inginkan, dan kamu menjadi budak terhadap sesuatu yang kamu ambisikan."(Ibnu Athaillah As-Sakandari)
Maksud dari “budak harta” adalah harta dan uang tersebut memperbudak dan memerintahkan manusia untuk mencari mereka (uang). Manusia yang tamak akan patuh saja dengan perintah harta atau uang tersebut. Uang akan “berkata”:
‘Carilah aku dan kerahkan semua tenaga kalian‘ (manusia tamak pun patuh pada uang).
Uang “berkata” lagi:
‘Carilah aku lagi, belum cukup, engkau perlu kerja sampai malam dan lembur sampai libur akhir pekan’ (manusia tamak pun patuh pada uang).Uang “berkata” lagi:
‘Carilah aku, engkau perlu mengorbankan sedikit kehormatan dirimu, engkau harus mengorbankan sedikit prinsip hidupmu, agar bisa dapat uang di zaman ini’ (manusia tamak pun patuh pada uang).
Ibnu Katsir berkata dan membawakan syair,
ﺃﻧﺖَ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺴﻜﺘَﻪ … ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻧﻔﻘﺘَﻪ ﻓﺎﻟﻤﺎﻝُ ﻟَﻚْ
“Engkau akan menjadi budak harta jika engkau menahan harta tersebut. Akan tetapi, jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah jadi milikmu.” (Tafsir Ibnu Katsir 14: 443)
Manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena manusia harus menjaga harta tersebut, yang terkadang menjaga harta seperti seorang budak yang menjaga seorang raja atau menjaga majikannya. Perlu tenaga, perhatian dan konsentrasi yang benar-benar penuh untuk menjaga harta, bahkan untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya.
Ibnul Qayyim menjelaskan perbedaan harta dan ilmu, beliau berkata,
ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ
“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.” (Miftah Daris Sa’adah 1/29)
Tidaklah heran apabila manusia banyak yang menjadi budak harta dan dunia karena harta adalah fitnah (ujian) terbesar bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujiannya) dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. Bukhari)
Inilah hakikat harta dan dunia yang bisa menipu manusia. Manusia yang tamak mengira bahwa merekalah raja dan tuan, tetapi sesungguhnya mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
“Kehidupan dunia telah menipu mereka.” (QS. Al-An’am: 130)
Karenanya kita diperintahkan agar benar-benar menjaga diri kita dari kelalaian karena harta. Allah Azza wa Jalla berfirman,
ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)
Semestinya dengan dikaruniai harta-harta dan anak-anak menjadikan kita senantiasa bersyukur, qana'ah (merasa cukup), semakin dekat dan semakin taat kepada Allah Azza wa Jalla.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayahnya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa qana'ah atas tidak diperbudak terhadap sesuatu yang diambisikan untuk meraih ridha-Nya.
